Kamis, 25 Oktober 2012

Rumah Baca dan Kreasi




Mendirikan dan mempunyai sebuah Rumah Baca sebelumnya belum terpikir oleh saya dari dulu..
Tapi semenjak saya tinggal di Depok, dan mempunyai anak, keinginan untuk segera mewujudkan sebuah rumah baca sudah tidak terbendung lagi. Apa pasal, saya miris melihat warga sekitar dekat tempat tinggal saya, karena kebanyakan dari mereka adalah anak dari orang kurang mampu. Meskiipun ortunya bekerja tapi sungguh saya lihat kurang peduli tentang pendidikan anak-anaknya, kalaupun sekolah mereka ya sudahlah... diserahkan begitu saja pada sekolah mereka. Kalau ada anak seumuran TK, kata mereka adalah yang penting sudah bisa baca tulis, tidak masuk TK pun tidak apa-apalah. Langsung dimasukin SD saja.. Hmmmm...
Ditambah dari segi pekerjaan orang tua mereka adalah para ibunya sebagai ibu rumah tangga, dan bapaknya kalau tidak menjadi kuli bangunan, bisa jadi tenaga serabutan, ataupun ojek.

Saya merasa tergerak untuk segera mewujudkan rumah baca yang sempat ada di benak saya beberapa tahun lalu sebelum anak saya lahir.
Selain untuk mewadahi anak-anak tersebut, saya sengaja untuk membiasakan anak untuk bisa bergabung, bergaul dengan segala lini sosial. Juga saya ingin mengajarkan pada anak untuk selalu berbagi dari hal yang paling kecil dan sederhana yang kita miliki kepada orang lain.
Disamping itu juga, saya juga berharap semoga keberkahan dan manfaat dari terlaksananya Rumah baca ini  untuk saya sendiri secara pribadi, anak, keluarga dan terutama anak-anak yang bergabung dalam rumah baca.

Rumah Baca yang saya dirikan sengaja tidak hanya bertujuan untuk seperti mendirikan sebuah perpustakaan yang anak-anak hanya boleh pinjam dan membaca buku saja, tetapi banyak hal ataupun kegiatan yang Insya Allah akan bermanfaat untuk mereka seperti, ketrampilan tangan, seni, bahasa inggris, bahasa Arab, Pelatihan Menulis, Mewarna, Mendengarkan dongeng, Melihat CD yang layak untuk anak seperti CD edutainment, Cd lagu anak-anak, Film anak-anak, dan sebagainya.

Untuk koleksi buku yang dipakai di Rumah baca kreasi ini adalah sebatas masih koleksi dari anak saya sendiri. Dan memang saya niatkan supaya anak-anak lain bisa ikut menikmati serta merasakan manfaatnya dari koleksi bacaaan yang ada.

Anggota pertama yang ikut bergabung adalah anak dan saudara-saudara dari seorang Ibu Ngkus, beliau adalah tenaga Penyapu jalan Depan rumah komplek kami. Karena memang saya lihat beliau dan saudara2 perempuannya adalah sudah menjadi janda semua, anaknya masih kecil-kecil yang masih butuh perhatian. Selanjutnya bertambah dengan anak tetangga mereka, saudara mereka, sampai akhirnya sekarnag anggota tetap adalah 8 orang.
Bagi saya jumlah itu merupakan awal yang baik, karena yang saya utamakan dahulu adlaah kekonsistenan mereka dalam mengikuti kegiatan di Rumah Baca Kreasi ini.

Ada hal lucu bagi saya sewaktu saya minta anak-anak didik Rumah Baca Kreasi untuk mengembalikan buku atau majalah yang mereka pinjam setiap minggunya. Yah.... ternyata ada hal tidak terduga.... treeeng... “mana bukunya Hilda?” , sembari saya catat di buku peminjaman dan pengembalian .  belum sempat Hilda menjawab, ada teman lain yang berkata “majalahnya yang dipinjam Hilda disobek ibunya untuk bungkus kue jualan bu...”.. Glek..... ... saya cuman menelan ludah... hehhehehehehe ada ada sajjja... yah.. gimana mau marah lah kan sudah terjadi, dan saya berpesan pada Hilda dan teman-teman lain supaya buku yang mereka pinjam untuk dijaga dan dirawat sehingga bisa dikembalikan dalam kondisi tetap bagus.

Kegiatan Rumah baca selama ini masih terbatas pada hari Rabu Sore saja. Karena masih terbatas waktu dan tenaga pembimbing. Saya berharap semoga kedepannya Rumah Baca ini bisa berlangsung lebih dari 1 x seminggu untuk kegiatannya.

Untuk lebih lengkap tentang Rumah Baca Kreasi, silahkan mengunjungi w website : http://rumcasi.multiply.com dan Facebook : rumcasi@yahoo.com (Rumah Baca Kreasi).

Rumah Baca dan Kreasi juga membuka diri bagi siapapun yang mau berpartisipasi, baik dalam penyumbangan buku, fasilitas belajar, bermain, berkreasi , berkegiatan maupun menjadi sukarelawan dalam terlaksananya kegiatan Rumah Baca Kreasi Ini.
Semoga sedikit kepedulian kita akan berguna bagi mereka untuk masa depan dan bekal kemandirian mereka dewasa nantinya...Insya Allah... 

Cerita di balik E-Book Pertama Faiz



Terinspirasi oleh teman anggota Klub Oase, yaitu Mbak Gita Lovusa dan Hana Acaningtyas, saya teringat oleh Faiz yang sebetulnya banyak sekali ocehan ocehan yang kalau disusun bisa menjadi sebuah cerita.  Melihat E-Book Chaca putri mb Gita Lovusa yang sudah menyusun  2 buah cerita dalam bentuk e-Book, yang berjudul “Cha dan Brachio” serta “Kakek Dano”. Begitu juga dengan cerita Ebook karya Adek Hana Acaningtyas yang berusia 10 Tahun berjudul “ Panen Wortel”.
Saya sangat kagum dibuat oleh karya mereka. Setidaknya, memang seperti karya Chaha yang masih berumur 5 tahun itu tidak terlepas dari dorongan dan bantuan kesabaran dari mamanya... tp dibalik itu adalah imajinasi si kecil Cha yang kadang tidak terduga waktu saya baca di cerita Kakek Dano,... pada kalimat, “Ambulan jatuh ke lubang kecil... kemudian lubang itu membesar” hehhehehe. Saya menjadi tersenyum geli dibuatnya... imajinasi seorang anak kecil tak terbatas dan kadang membuat takjub.

Kembali pada e-book pertama faiz yang berjudul “Faiz dan Pesawat Terbang”, saya terpacu untuk mensupport faiz membuat sebuah cerita, meskipun dia masih belum sepenuhnya paham maksud saya membuat sebuah cerita tersebut. Sewaktu saya menyampaikan pada dia bahwa ibu mau menyusunkan sebuah cerita dalam bentuk e-book dari rangkaian kalimat kalimat yang dikeluarkan faiz. Faiz langsung bersemangat meskipun dia belum paham apa itu arti e-book. . “Sekarang ceritanya tentang apa yah Faiz... apa yang kamu suka dan apa yang akan kamu ceritakan?”... Faiz terdiam dan saya pancing dengan beberapa hal yang menarik perhatiannya seperti : kereta api, pesawat, kupu-kupu, kucing, burung, langit, bintang-bintang, dan bunga. Ternyata Faiz memilih pesawat sebagai cerita yang akan dibuat.

Saya pikir bener juga dia tertarik dengan tema pesawat karena memang dia sangat suka sekali dengan hal-hal yang berhubungan dengan pesawat terbang, baik gambarnya, pesawat betulan, bandara, buku-buku dan jenis-jenis pesawat terbang. Dan saya juga baru ingat bahwa hari-hari terakhir ini dia selalu membuat pesawat terbang mainan dari kertas. Itu selalu dia minta pada saya untuk dibuatkan bentuk dasarnya, kemudian dia modifikasi sendiri dengan menggunting bagian pinggir, belakang dan bagian-bagian lain yang perlu ditambahi seperti ekor, sayap kecil kiri kanan bagian belakang, jet gambar jendela, pintu, juga rodanya. Hhmmm.. kadang sempat tidak sabar mengikuti segala kemauan faiz, tapi ternyata setelah melihat hasilnya, saya menjadi takjub, dengan pesawat kertas tersebut dia bisa menjadikan berbagai bentuk pesawat terbang.
Kadang dia minta untuk diwarnai dengan cat warna dan digambari dengan pensil warna dan tulisan Garuda Indonesia atau Lion Air” seperti yang biasa dia dengar tentang nama sebuah maskapai penerbangan. Hampir setiap dia menemukan kertas”nganggur bertebaran di rumah” dia selalu minta dibikinkan dan dibentuk sendiri menjadi pesawat terbang kertas.

Faiz memang belum bisa membaca dan menulis dengan baik dan selancar teman-temannya, maka dari itulah saya membantu dia dalam menyusun rangkainc aerita dalam e-book faiz ini.
Kalimat yang tertulis dalam buku e-book faiz adalah murni kalimat-kalimat yang dia ceritakan sendiri, mengalir apa adanya  sesuai hal yang diamati dan dialaminya selama ini.
beberapa kalimat dari cerita faiz sengaja tidak saya tuliskan karena kadang hal-hal yang tidak berhubungan dengan cerita atau sudah “OOT : Out Of the Topic” . Geli kadang kalau ingat hal itu.. Faiz bercerita panjang lebar.... seperti orang dewasa sedang berpresentasi  ehhehehe...
sampai kadang saya ucap “STOP” karena ceritanya sudah ngalor ngidul menceritakan hal-hal tidak penting seperti menceritakan kegiatan ibunya sehari-hari... cerita waktu selama dengan neneknya di  luar kota... hihii.. lucuuu...

Awalnya saya bingung karena belum paham cara dan teknik membuat e-book dan bagaimana mempostingkan ke website supaya bisa di download orang lain.
Sampai saat ini saya masih sebatas pembuata naskah, pengumpulan bahan/gambar pendukung cerita, yang sebagian besar adalah karya faiz sendiri baik digambar secara manual dengan pensil warna ataupun menggambar secara digital. Dan sebagai pelengkap adalah saya sertakan juga sebagian gambar foto kerya pesawat kertas faiz yang sebagian lain belum sempat saya foto karena sudah berserakan dimana-mana entah sudah hilang atau robek karena terlalu seringnya dia membuat dan bermain pesawat kertas tersebut.  Ada yang sudah masuk ke dalam got  depan rumah, karena sudah dipakai bermain dan diterbangkan di depan rumah.  Ada-ada ajaa...

Sampai 3x saya edit, teliti dan mencoba susun sebisa saya, akhirnya e-book cerita faiz ini menjadi 3 halaman cerita, 1 halaman muka (cover) dan 1 halaman penutup (selesai).
bagi saya ini adalah pengalaman pertama dalam bekerja sama dengan Faiz untuk mengajari dia berusaha mengingat sesuatu dan dituangkan dalam bentuk tulisan sehingga bisa menghasilkan sebuah cerita yang bisa dibaca oleh orang lain. Mungkin bagi para teman atau penulis buku anak yang sudah beken dan sudah ahlinya ini adalah karya masih remeh temeh.. tapi bagi saya ini adalah tahap awal saya mengajarkan kepada anak saya untuk membiasakan diri menuangkan sesuatu dalam bentuk tulisan ataupun gambar yang tersusun rapi dengan cara mengingat-ingat apa yang selama ini disukai, dialami, dilihat dan dirasakan...
Semoga bermanfaat yah Faiz... dan semoga bermanfaat juga bagi yang membaca e-book Faiz ini... 

Salam Kreatif *_*
Luluk Maslachah

Depok, 14 Mei 2012

Bu Ngkus yang Membungkus Kejujuran


Kreek.. krekk.....
Setiap hari, di tengah terik matahari ...selalu aku dengar suara itu...
Yapp.. suara sapu lidi Seorang penyapu jalan di areal komplek tempat tinggal kami.
Dengan gaya khasnya, wanita tua yang selalu membawa sapu lidi panjang dan memakai Topi Anyaman yang lebar yang biasa dipakai Pak Tani ke sawah. Nyaman sekali kelihatannya sehingga wajahnya tidak terkena langsung sengatan matahari. Wajahnya hitam, yang maaf kalo orang bilang kulitnya sudah gosong sana-sini akibat sengatan matahari.
Dilihat sepintas, memang dari segi kegesitan beliau kurang tangkas dan kurang cepat bergerak. Apa pasal ? karena memang badan beliau lumayan berisi alias lumayan gendut untuk  ukuran seumurannya, ditambah usia beliau yang sudah diatas 50 tahun.
Kami semua memanggilnya Bu Ngkus... entah siapa nama lengkapnya...Yang saya tahu selain bekerja menjadi tukang sapu jalan depan rumah daerah tempat tinggal kami, Bu Ngkus masih menyempatkan untuk ikut acara pengajian yang diadakan setiap hari Jumat yang acaranya diadakan dari satu rumah ke rumah yang lain secara bergantian, berjalan kaki dengan jarak rumah yang tidak semuanya dekat dengan rumahnya. Sungguh semangat yang luar biasa untuk mengisi jiwa dengan siraman rohani dan bersilaturahmi dengan tetangga.

Bu Ngkus  mempunyai 3 saudara perempuan yang semuanya janda kecuali adiknya.
Bu Ngkus juga masih mempunyai 3 orang anak perempuan, Yang pertama sudah menikah dengan seorang Satpam mempunyai 2 anak balita, Yang kedua masih duduk di kelas 6SD, yang ketiga juga duduk di kelas 6 SD. Mereka semua tinggal dalam satu rumah yang tidak begitu besar. Kecuali satu  adiknya yang masih mempunyai suami dan satu  anak yang diasuh oleh kakak perempuan Bu Ngkus yang rumahnya bersebelahan.
Hmm.. tak terbayangkan  1 rumah kecil ditinggali oleh 9 orang yang entah kamarnya ada berapa.mereka tinggal bersama gotong royong dalam satu rumah dengan 3 keluarga, dengan kondisi rumah yang tidak begitu luas, dan mereka adalah janda semua yang anak-anaknya masih membutuhkan biaya untuk sekolah.
Dari Bu Ngkus jugalah kami mengenal Bi Tiah yang pernah bekerja di rumah kami sebagai tukang setrika dan cuci..

Sejak saya mendirikan dan merintis Rumah Baca dan Kreasi inilah, frekwensi untuk ngobrol dengan bu Ngkus lebih sering dan menjadi lebih tahu tentang kondisi sebenarnya keluarga Bu Ngkus.
Sewaktu saya menawarkan anak-anak dan cucunya untuk bermai, mampir ke rumah saya sekedar baca-baca buku koleksi anak saya, Faiz, nonton CD lagu-lagu anak, Cerita anak, dan kadang ssesekali saya jadwalkan untuk membuat suatu kreasi sebagai bekal ketrampilan dan kemandirian mereka.
Dengan senang hati Bu Ngkus menerima tawaran  saya, dan akhirnya jadilah anak-anak dan cucu Bu Ngkus serta anak-anak kecil saudara dan tetangga nya itu menjadi anggota pertama Rumah Baca yang masih saya rintis.

Suatu hari seperti biasanya di tengah terik matahari, terdengar ada suara memanggil nama saya, ternyata Suara Bu Ngkus yang akan menanyakan kepastian jadi tidaknya acara yang akan mengajak anak-anaknya itu pada suatu acara di Rumah Baca Lain.
Di sela-sela pembicaraan kami, Bu Ngkus berkata bahwa anaknya yang menjadi Satpam di lingkungan rumah saya sudah tidak bekerja di sini. Saya sendiri juga sempat penasaran kok sudah lama tidak pernah terlihat menantunya yang kerja di lingkungan ini.
Ternyata kata Bu Ngkus, menantunya diberhentikan hanya gara-gara lupa tidak menulis tanda tangan absen satpam sewaktu malam-malam harus pulang mendadak karena dipanggil Bu ngkus bahwa anaknya Satpam yang juga cucu pertama Bu Ngkus tersebut sakit panas tinggi dan sudah kejang-kejang matanya ke atas.

“Yah.. gimana lagi yah, waktu itu-kan cucu mendadak sakit panas tinggi, badannnya kejang-kejang, siapa lagi kalo bukan bapaknya yang mengantar anaknya ke dokter atau bidan, namanya juga kondisi mendadak, panik, jadi yah si Bakri (panggilan mantu Bu Ngkus) lupa tanda tangan... dan sebetulnya dia juga bingung karena mau pulang malam itu juga tidak ada satpam yang menggantikan mendadak.. eh besoknya datang kerja lagi, ada satpam lain yang mengatakan bahwa Bakri tidak menandatangani absen kemaren berarti tidak niat kerja dan sekarang sudah ada yang menggantikan kamu”, cerita bu ngkus sambil berkaca-kaca.

Hmmm.. saya sendiri yang sebagai warga sini aja tidak pernah mendengar cerita seperti yang Bu Ngkus ceritakan tadi, kalo Bu Ngkus tidak bercerita pada saya... pikir saya dalam hati.

Bu Ngkus melanjutkan ceritanya lagi... “apalah daya kita  yah... saya yang bekerja tiap hari begini... gaji tidak seberapa, itupun masih tergantung pada Bakri yang mantu saya ini sebagai tulang punggung keluarga, cucu sakit saya tidak sedang memegang uang sepeser sama sekali.
Malam itu hujan, anak Bakri sudah kritis kejang-kejang, bingung siapa yang harus bawa ke dokter kalo tidak bapaknya sendiri, untung kerjanya dekat rumah... tapi nasib sial yang menimpa.. demi membelain bawa anaknya ke dokter malam itu juga, Bakri besoknya tidak mendapat kerjaan hanya gara-gara lupa tanda tangan absen”..

“Saya sudah berbicara ini juga kepada pak RW.. bahwa kami tidak berbohong dengan kejadian  yang menimpa kami malam itu... , kami tidak punya kekuatan untuk berbicara pada kepala satpam... eh tau tau besoknya udah ada ganti satpam yang lain..”

“Yah sudahlah... yang penting kita jujur.. kemana-mana tidak membuat nama jelek dan tidak memalukan.. bekerja tetap bekerja.. insya Allah akan ada gantinya yang lebih baik..yang penting berkahnya ya”

Subhanallah...mendengar cerita Bu Ngkus saya hanya bisa terdiam...
ternyata ada intrik juga di lingkungan pekerja satpam di daerah rumah saya... Hmm.. gak abis pikir deh...

Bu Ngkus bercerita lagi , “ ya memang benar rejeki gak kemana .. akhirnya Bakri sudah mendapat pekerjaan baru lagi nok,, di daerah kota kembang sana sebagai satpam juga, Allah  maha adil”..

Bu Ngkus terdiam dan sayapun terdiam juga..
Entah apa yang mau dibicarakan lagi. Yang bisa saya sampaikan adalah “Alhamdulillah Bu Ngkus , mantunya sudah mendapat pekerjaan lagi, karena memang Allah maha Adil, karena Mantu Bu Ngkus dan Bu Ngkus sendiri tidak mengada-ada tentang peristiwa malam hari yang cucu Bu Ngkus sakit”.

Ya.. saya hanya bisa diam meskipun batin sudah sesak dan mata sudah berkaca-kaca, tp saya tidak mau terlihat menangis di depan Bu Ngkus... di dalam hati saya memuji “KEJUJURAN Bu Ngkus...”
Walau bagaimanapun, memang benar, Allah tidak melihat rupa, jabatan dan kekayaan seseorang, tetapi Allah melihat hati orang tersebut, sehingga Allah memberikan yang terbaik untuk orang tersebut.

Jaman sekarang... sudah jarang ditemukan kejujuran, ketulusan, tapi siang di tengah terik matahari, seorang Bu Ngkus telah mengetuk hatiku dengan Sebungkus Kejujurannya...
Semoga Allah melindungi, memberkahi Bu Ngkus dan keluarganya, anak cucunya yang masih kecil-kecil... Aamiin Yaa Rabbal Alamiin..

Pada hari itulah... saya berjumpa dan belajar dengan seorang PAHLAWAN KELUARGA yang MEMBUNGKUS KEJUJURANnya sebagai BEKAL  menghidupi dan menyelamatkan keluarganya. SUBHANALLAH....


Depok, 25 Juli 2011
Luluk Maslachah

Rabu, 17 Oktober 2012

Story Telling Oleh Kak Fitria Cakrawati di Rumcasi


Alhamdulillah... Hari ini, Rabu, 17 Oktober 2012, Adik-adik Rumah Baca & Kreasi (Rumcasi) kedatangan tamu nih....Adik-adik Rumcasi akan belajar mendengarkan Story Telling dari Kak Fitria Chakrawati, seorang penulis lepas, penulis buku anak-anak dan antologi. Gimana tidak senang .... Kak Fitria datang ke Rumcasi setelah menjemput anaknya, Keysa, Pulang sekolah loh.. Jadi adik-adik Rumcasi tinggal jalan melangkah sedikit aja ke lokasi Rumcasi dan siap mendengarkan cerita dari Kak Fitria.       


Setelah mendengarkan cerita dari Kak Fitria, adik-adik Rumcasi diajak untuk menceritakan kembali cerita yang sudah didengar dalam bentuk cerita langsung (mengucapkan), Kemudian baru deh adik-adik disuruh untuk menceritakan kembali dalam bentuk tulisan.Dari beberapa anak Rumcasi yang mengikuti acara story telling ini, ada satu anak yang dinilai paling baik oleh Kak Fitria, yaitu Desy.



Nah... karena Desy sudah berhasil menceritakan dengan baik lewat tulisan diantara teman-teman yang lain, maka Desy berhak mendapatkan hadiah buku cerita karangan Kak Fitria sendiri loh....Asyikk kan...........Selamat yah Desy, semoga hadiah buku dari acara story Telling ini bermanfaat untuk Desy dan sebagai penyemangat teman-teman Rumcasi yang lain..


        

Terima kasih tak terhingga untuk Kak Fitria dan Keysa yang sudah menyempatkan diri datang ke Rumcasi untuk membagikan ilmu dan menyebarkan semangat membaca dan menulisnya.....Semoga berkah dan tambah sukses untuk kak Fitria dan Keysa...Aamiinn..Sampai jumpa di Story Telling berikutnya yah .. :-) Salam,

Selasa, 16 Oktober 2012

Tanpa Judul

Jika daya tak berupaya..
jika kata tak berbicara..
Apa jadinya semua..

Bersyukur sudah melakukan semuanya..
meski riak selalu menghadang..
Tunggu waktu yang akan menjawabnya...
Pasrah pada Sang Maha Pencipta..

Dia tidak akan membiarkanmu terjerembab
Hanya karena oleh riak-riak kecil 

Dia menjadikan riak itu sebagai lahanmu
Untuk lebih mendekat padaNYA..
dan diSayang OlehNYA...

Kasih SayangNYA Tak berujung waktu...
Selamanya....^_^

Minggu, 30 September 2012

Kreatif Sejak Dini Yuuukkk... :-)

Senangnya bisa mengajari anak-anak di sekeliling saya untuk berkreasi .. berkreasi dan berkreasi...Selain mengisi waktu luang dan liburan. Kegiatan Kreatif Sejak Dini yang saya buat ini adalah bertujuan membekali anak-anak  untuk menjadi kreatif, memanfaatkan bahan-bahan disekitarnya sehingga menjadi produk yang indah serta bermanfaat.


Selain itu juga Jika sejak dini sudah terbiasa berkegiatan positif maka Insya Allah kelak dewasa anak-anak bisa memanfaatkan kebisaannya itu untuk menyalurkan hobi ataupun untuk wiraswasta, sehingga bisa mandiri secara sosial dan finansial. Tidak menutup kemungkinan nanti mereka bisa membuka peluang lowongan pekerjaan dan tidak menunggu adanya lowongan pekerjaan.

Berikut adalah Foto-foto Kegiatan "Kreatif Sejak Dini" :
















Sabtu, 29 September 2012

Semua Ada Masanya

Keceriaan, kesedihan
Kemanjaan, kesombongan
Ke-egoisan, keangkuhan
Kebebasan, keacuhan
Ketidakteraturan...
: Lewat sudah

Bukan saatnya untuk kembali seperti dulu
Tiba saatnya masa baru yang berbeda

Kini saatnya merajut benang yang terurai
Pintalan demi pintalan
Terbentuklah wujud baru
: Yang bisa menghangatkan

Warna yang ada sekarang
Merah, Kuning, Putih, ataukah Jingga
Adalah warna yang kita pilih
: Ataukah memang warna itu sengaja dipilihkan untuk kita ?

Satu masa satu warna
Tapi kadang satu masa bisa berjuta warna
: Masing-masing warna ada masanya
Catatan : 30 Agustus 2005 ,  2:29 AM